Home Berita Urgensi Pembangunan Sabuk Pantai, Tempo Empat Bulan 13 Perahu Nelayan Karam

Urgensi Pembangunan Sabuk Pantai, Tempo Empat Bulan 13 Perahu Nelayan Karam

341
0
Fotografer : Herdi MC. Bengkulu Selatan

Bengkulu Selatan – Intensitas kecelakaan perahu nelayan yang karam di Muara Pasar Bawah Kabupaten Bengkulu Selatan sangat mengkhawatirkan. Dalam tempo empat bulan, Maret hingga Juli 2018, tercatat sudah ada 13 kasus musibah perahu karam dan telah menelan dua korban meninggal dunia.

Data tersebut merupakan salah satu landasan mengapa upaya pembangunan sabuk pantai atau Geotube dinilai sebagai salah satu prioritas, sebagai wujud solusi mendesak atas permasalahan tersebut.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bengkulu Selatan, Novianto melalui Kabid Perikanan Tangkap, Syaiful Anwar meyakini upaya pembangunan sabuk pantai di Pasar Bawah akan dapat meminimalisir terjadinya potensi kecelakaan laut perahu nelayan di muara sungai.

“Musibah itu sering terjadi saat nelayan mau merapat ke daratan atau ke lokasi tambatan perahu di Muara Pasar Bawah. Karena gelombang tinggi,” jelas Syaiful.

Untuk itu, Dinas Perikanan Kabupaten Bengkulu Selatan telah mengajukan proposal pembangunan sabuk pantai (geotube) dan pemasangan dermaga apung (floating jetty) baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Saat ini beragam upaya terus dilakukan termasuk mengajukan usulan ke pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

“Kita sangat berterima kasih kepada bapak Plt Bupati Gusnan Mulyadi yang gigih melakukan lobby kepada pemerintah pusat untuk realisasi pembangunan ini. semoga dapat direstui dan terlaksana,” ujar Syaiful.

Bukan hanya untuk keamanan dan kenyamanan nelayan saja, dengan dipasangnya sabuk pantai diyakini dapat meningkatkan taraf hidup khususnya perekonomian nelayan di Bengkulu Selatan. Selain itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas tangkap ikan yang selama ini mengalami penurunan.

Saat ini nelayan Pasar Bawah juga terkendala dengan jenis perahu yang dapat dipergunakan. Mayoritas perahu yang digunakan adalah perahu tempel 3 GT diharapakan setelah adanya pembangunan sabuk pantai maka nelayan dapat menggunakan perahu yang berkapasitas lebih.

“Pentingnya dibangun sabuk pantai dan dermaga apung ini juga akan berdampak terhadap meningkatnya pendapatan nelayan. Selama ini nelayan kita melaut itu hanya sekitar tiga jam, siang sudah mendarat. Alasannya kenapa, kalau sore atau malam khawatir gelombang tinggi saat mau mendarat,” bebernya.

Singkatnya durasi pergi melaut ditambah penggunaan perahu tempel yang hanya berkapasitas 3 GT membuat hasil tangkapan nelayan tidak maksimal. Sehingga pendapatan nelayan pun sangat rendah dan jenis tangkapan yang didapat juga minim.

Berikut daftar list kecelakaan perahu nelayan Bengkulu Selatan di tahun 2018:

  1. Apriadi, 10 Maret 2018, rusak ringan, korban selamat
  2. Dona-ABK Ahmad Samsu, 15 April 2018, rusak ringan
  3. Firmansyah dan ABK Ismail, 22 April 2018, kerusakan berat, ABK dilarikan ke Rumah Sakit dan Firmansyah meninggal dunia
  4. Yunani dan ABK Wahyu, 23 April 2018, kerusakan berat 50 persen, tidak ada korban jiwa
  5. Suadi dengan ABK Melan, Suhaibi, Salman dan Sukarni, 24 Mei 2018, kerusakan berat 50 persen, tidak ada korban jiwa.
  6. Erwan Panani dan ABK Yayan, 30 Mei 2018, rusak ringan
  7. Yulian Agusman beserta ABK Erlan dan Feri, 10 Juni 2018, rusak ringan
  8. Erwan Panani dan ABK Yayan, 12 Juni 2018, rusak berat
  9. Yulian Efendi dengan ABK Dedet dan Putra, 27 Juni 2018, rusak berat 75 persen, tidak ada korban jiwa
  10. Bahirman dan ABK Chery, 13 Juli 2018, rusak ringan
  11. Ipin, 20 Juli 2018, rusak ringan
  12. Hendri alias Otong dengan ABK Yarkan Somedi dan Wabin, 23 Juli 2018, rusak ringan
  13. Nasra dengan ABK Yeshen Haryanto dan Budi, 28 Juli 2018, rusak berat 50 Persen, Nasra meninggal dunia dan ABK selamat.

(MC Bengkulu Selatan)