Home Berita Hasil Gabah Petani Lari Keluar Daerah, Ini Cara Pemkab Mengatasinya

Hasil Gabah Petani Lari Keluar Daerah, Ini Cara Pemkab Mengatasinya

244
0

Bengkulu Selatan – Kabupaten Bengkulu Selatan dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Provinsi Bengkulu. Namun gabah hasil petani banyak lari keluar daerah. Terutama ke provinsi tetangga, Lampung.

“Bengkulu Selatan lumbung padi, setiap tahun laporan statistiknya surplus gabah. Namun gabah kita banyak lari keluar, seperti ke Lampung. Setelah diproses di sana, dipacking, bisa jadi beras kita dijual kembali ke Bengkulu Selatan, bisa dalam bentuk beras medium atau premium atau bahkan dalam bentuk Raskin,” ungkap Plt Bupati Bengkulu Selatan, Gusnan Mulyadi pada saat menghadiri rapat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan, Rabu (19/12/2018) di aula Dinas Pertanian BS.

Larinya gabah keluar daerah menurut Gusnan, sangat merugikan petani. Karena proses produksi dari gabah hingga menjadi beras, apalagi beras kemasan dengan kualitas bagus memiliki nilai tambah (value added) yang jauh lebih menguntungkan daripada menjual gabah.

Beberapa langkah telah diambil Pemkab Bengkulu Selatan sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut. Diantaranya dengan menyediakan alat dan mesin pertanian seperti Mesin Panen padi (Combine Harvester) dan mesin pengering padi (vertical dryer).

Pemkab Bengkulu Selatan, sambung Gusnan, saat ini tengah membahas usulan penyerahan mesin penggiling padi skala besar Milik Pemerintah Provinsi Bengkulu kepada Pemkab Bengkulu Selatan. Yang mana mesin milik pemerintah provinsi yang terletak di Desa Suka Bandung Kecamatan Air Nipis selama ini terbengkalai.

“2019 kita harus deklarasi gabah Bengkulu Selatan tidak ada lagi yang lari keluar daerah Bengkulu Selatan. Kita juga minta kepada Bulog untuk membeli beras petani kita,” tegas Gusnan.

Terkait dengan upaya ini pula, Dinas Pertanian Bengkulu Selatan pada tahun ini menerima tujuh unit combine harvester (mesin panen padi) dan Vertikal Dryer (pengering padi) sebanyak tiga unit.

Dinas Pertanian mengklaim melaui combine harvester ini panen padi seluas satu Hektar diperkirakan hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Sedangkan mesin pengering padi berkapasitas 10 Ton.

Jika peralatan dan mesin pertanian sudah disediakan oleh pemerintah daerah, diharapkan petani tidak lagi menjual gabah kepada tengkulak dari luar daerah seperti Lampung. Sehingga larinya gabah ke luar daerah bisa dicegah. (MC Bengkulu Selatan)