Home Berita Fenomena Musim Kemarau yang melanda berbagai wilayah di Indonesia

Fenomena Musim Kemarau yang melanda berbagai wilayah di Indonesia

150
0

Fitrial Reftogustadinta, Reflis: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus dan September 2018. Saat ini, sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yang diperkirakan normal dan tidak dipengaruhi El Nino yang menyebabkan kekeringan parah seperti pada 2015. Meski tidak dibarengi dengan El Nino atau anomali suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik ekuator yang membawa dampak kekeringan di Indonesia, namun musim kemarau tahun ini sudah makin terasa dampaknya. Musim kemarau di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Monsun Australia. “Orang sering menyebutnya angin timuran,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dikutip Antaranews.

Bahkan fenomena kekeringan menurut BNPB sudah mulai nampak di sejumlah wilayah di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
“Kemarau tahun ini diprediksi akan terjadi hingga September, lebih panjang dari biasanya, puncaknya terjadi bulan Agustus, sekarang sudah nampak beberapa wilayah Indonesia mengalami kekeringan,” ujar Pelaksana Harian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo di Kantor BNPB Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (15/7/2019).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan, pemerintah terus mengikuti perkembangan kekeringan di sejumlah daerah dan dampaknya terhadap perekonomian, termasuk inflasi. Ia menyadari, kekeringan ini patut menjadi perhatian nasional, sehingga pemerintah akan rutin melakukan kontrol dan menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Hanya saja, Darmin menambahkan, rumusan langkah mengatasi kekeringan baru dapat dibuat pada Agustus. Sebab, bulan tersebut merupakan masa panen raya yang pasti memberikan gambaran efek dari kekeringan saat ini. Seberapa besar dampaknya akan dijadikan sebagai landasan rumusan.

Berikut adalah El Nino dan empat faktor pengendali iklim di Indonesia lainnya yang menyebabkan kekeringan panjang pada musim kemarau tahun ini.

1. ENSO (El-Nino dan La Nina)
ENSO (El Nino-Southern Oscillation) adalah variasi lebih panas atau dingin dari suhu permukaan laut di wilayah equator tengah dan timur Samudera Pasifik yang reguler atau berkala. ENSO ini berpengaruh terhadap variasi iklim di sebagian besar wilayah tropis dan subtropis Bumi. Periode panasnya disebut sebagai El Nino, sementara periode dinginnya disebut La Nina.

2. IOD (Indian Ocean Dipole)
Kondisi IOD ikut mengganggu dalam variasi iklim di Indonesia.
Jika dalam pemantauan hasil IOD menunjukkan positif (+), maka wilayah Indonesia barat akan kering.Sebaliknya jika IOD menunjukkan kondisi negatif (-), maka wilayah Indonesia barat akan basah. “IOD sekarang kondisinya positif. Ini artinya akan memperparah kering wilayah barat Indonesia.

3. SST (Sea Surface Temperature)
Biasa ditulis dalam bahasa klimatologi sebagai SST, suhu permukaan laut juga menjadi bagian penting dalam pengendali iklim di Indonesia.
Menurut Adi Ripaldi ( Kasubid Analisis informasi Iklim , BMKG ), suhu muka laut di Indonesia masih dingin hingga Oktober 2019 sehingga penguapan yang berpotensi bagi pertumbuhan awan-awan hujan masih kurang hingga Oktober.

4. Monsun (angin)
Awal musim hujan erat kaitannya dengan mulai dominannya Monsun Asia (angin baratan) yang mengalirkan udara basah dari Benua Asia melewati wilayah Indonesia dan bergerak menuju benua Australia. BMKG memprediksi peralihan angin timuran menjadi angin baratan (Monsun Asia) pada tahun ini akan terlambat.

Berikut ini adalah beberapa rencana dan upaya yang dilakukan pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam mengatasi musim kemarau yang setiap tahunnya terjadi :

1. Pemerintah Bengkulu Selatan mulai mendistribusikan bantuan air bersih disejumlah wilayah yang mengalami krisis air. Bahkan, di Desa Air Sulau Kecamatan Kedurang Ilir , Bupati BS Gusnan Mulyadi didampingi Camat Kedurang Ilir, Marwin Sabtu sore (31/8), secara langsung mendistribusikan air bersih PDAM Tirta Manna ke warga yang membutuhkan.
“ Kondisi kemarau saat ini, mengakibatkan beberapa wilayah sudah mulai kesulitan air bersih, karena itu Pemkab turut membantu untuk menyalurkan air bersih disejumlah lokasi yang sudah terancam krisis air, salah satunya di Desa Sulau ini, penyaluran air bersih ini sudah dilakukan sejak pecan lalu dan akan terus dilakukan sepanjang masih membutuhkan “, ujar Gusnan Mulyadi.
2. Pemerintah Kabupaten Karawang, berencana membangun bendungan skala sedang pada 2020. Bendungan ini untuk mengatasi permasalahan kekeringan yang setiap tahun terjadi. Rencananya, bendungan ini akan dibangun di wilayah yang paling parah dilanda kekeringan di Kecamatan Tegalwaru, dan Pangkalan. Kepala Bappeda Karawang Eka Sanatha mengatakan, akan melobi Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membangun bendungan skala sedang di tahun depan.
3. Kodim 0717/Purwodadi turun tangan dengan menyalurkan air bersih untuk masyarakat. Air bersih itu disalurkan untuk masyarakat di Dusun Cengklik Desa Kalipang, Kecamatan Gabus. Pendistribusian air bersih itu dilangsir menggunakan satu unit truk engkel yang berkapasitas 4 ribu liter. Secara ketat mendapat pengawalan dilakukan dua Babinsa Koramil/11 Sulursari. Para warga mengantre sembari membawa ember, gentong, hingga jeriken. Adanya bantuan itu cukup membantu meringankan beban mereka dalam mencari air bersih. Sebab selama musim kemarau ini, mereka ada yang membeli air bersih dengan harga yang cukup tinggi setiap bulannya. Dandim 0717/Purwodadi Letkol Inf Asman Mokoginta melalui Sertu Suwarno mengatakan, musim kemarau di wilayahnya telah menyebabkan kekeringan sehingga banyak mata air dan sumur warga menjadi kering.
4. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) berencana menggelar shalat Istisqa atau shalat meminta hujan. Upaya ini dilakukan untuk mencegah meluasnya dampak kekeringan yang melanda berbagai daerah di Jabar. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, shalat Istisqa akan dilaksanakan Jumat (6/10/2018) di lapangan Gasibu, Bandung. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan untuk mencegah meluasnya dampak kekeringan yang melanda berbagai daerah di Jabar, cara spiritual juga harus diupayakan.
“Kita akan laksanakan shalat Istisqa juga ya, urusan dunia kita carikan, spiritual juga kita laksanakan, mudah-mudahan itu bisa memaksimalkan ikhtiar kita. Afdolnya hari Jumat ya, mungkin di Gasibu,” kata Gubernur, melalui siaran persnya.

Saat musim kemarau, udara siang cenderung panas dan kering yang kemudian menyebabkan debu dan polusi semakin parah. Selain itu, saat malam hari terkadang udara menjadi sangat dingin. Hal ini kemudian menurunkan daya tahan tubuh banyak orang.
Terlebih musim kemarau ataupun pancaroba menjadi saat di mana virus dan bakteri berkembang biak dengan cepat. Kondisi ini kemudian menyebabkan banyak orang rentan terserang penyakit.

Di bawah ini ada beberapa penyakit yang kerap menyerang saat musim kemarau, antara lain :
1. Asma Kambuh
Buat kamu yang punya riwayat asma, kamu patut berhati-hati lantaran di musim kemarau tingkat polusi, debu, hingga serbuk bunga meningkat dengan signifikan yang mana semua hal tersebut merupakan faktor penyebab kambuhnya penyakit asma. Untuk itu, sebaiknya kamu lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, dan jika harus keluar rumah maka jangan lupa menggunakan masker.

2. Keracunan Makanan
Di Indonesia, peningkatan suhu udara disertai dengan meningkatnya kelembapan udara. Udara yang lembap ini memungkinkan bakteri dan jamur yang biasanya ada pada makanan tumbuh dan berkembang biak dengan subur. Mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi bakteri serta jamur dapat meningkatkan resiko keracunan makanan.

3. Diare
Di beberapa daerah di Indonesia, datangnya musim kemarau juga terkadang disertai dengan berkurangnya volume air bersih yang layak konsumsi lantaran banyak sumber air misalnya sumur yang mengering. Alhasil masyarakat membatasi penggunaan air bersih, baik untuk keperluan makan maupun kebersihan, yang kemudian membuat lingkungan menjadi lebih kotor. Lingkungan yang kotor ini kemudian mengundang lalat datang dan hinggap di berbagai tempat, terutama makanan. Mengonsumsi makanan yang telah dihinggapi lalat meningkatkan resiko terkena diare lantaran serangga ini senang hinggap di tempat yang kotor dan penuh dengan kuman serta membawa kotoran dan kuman dari satu tempat ke tempat lain.

4. Hipertermia
Saat musim kemarau, siang hari menjadi sangat panas. Sayangnya, kita tetap harus bekerja dan melakukan aktivitas seperti biasa selama 8 jam setiap hari. Kondisi ini dapat meningkatkan resiko hipertermia karena suhu tubuh yang terlalu tinggi. Hipertermia biasa menyerang orang tua lantaran kemampuan melepaskan panas dari tubuh telah berkurang, juga orang-orang yang bekerja di luar ruangan saat matahari sedang terik. Untuk mencegah hipertermia, kamu wajib mencukupi kebutuhan air putih minimal 1,5 liter setiap harinya.

5. Dehidrasi
Diare, muntaber, kehilangan banyak cairan tubuh, hingga kurangnya konsumsi air membuat banyak masyarakat mengalami dehidrasi di musim kemarau. Kendati demikian, kamu gak boleh menganggap remeh kondisi tubuh yang dehidrasi, karena tak jarang dehidrasi yang berkepanjangan dapat menyebabkan masalah yang lebih serius seperti kejang hingga gangguan ginjal. Untuk mengatasinya, kamu harus banyak mengonsumsi cairan, buah yang banyak mengandung air, bila perlu kamu juga bisa mengonsumsi minuman yang mengandung elektrolit.

 

https://beritagar.id/artikel/berita/kekeringan-ekstrem-di-sejumlah-wilayah-indonesiahttps://www.tribunnews.com/nasional/2019/07/15/bnpb-sebut-kemarau-tahun-ini-akan-lebih-panjang-akibat-dampak-el-ninohttps://republika.co.id/berita/pv6uyf370/pemerintah-rumuskan-langkah-atasi-dampak-kekeringanhttps://mataram.tribunnews.com/2019/08/21/musim-hujan-diprediksi-baru-datang-bulan-november-penjelasan-bmkg-musim-hujan-yang-terlambathttp://raselnews.com/kemarau-air-bersih-mulai-sulit/https://nasional.republika.co.id/berita/pwmg84366/karawang-ingin-bangun-bendungan-atasi-kekeringanhttps://radarkudus.jawapos.com/read/2019/09/02/153572/musim-kemarau-kodim-purwodadi-salurkan-air-bersih-ke-warga-kalipanghttps://kumparan.com/bandungkiwari/pemprov-jabar-akan-shalat-minta-hujan-untuk-mengatasi-kemarau-panjang-1538636072459860417https://www.idntimes.com/health/fitness/eka-amira/penyakit-yang-rentan-menyerang-saat-musim-kemarau-exp-c1c2/full